 JANGAN MAIN-MAIN DENGAN GANGGUAN KECEMASANMU (bukan sekedar Fear factor!)
CEMAS NORMAL ATAU GANGGUAN?
Pernahkah nonton Fear factor ? Coba bayangkan anda sekarang yang jadi pesertanya! Tentu ada rasa was-was karena mau dikerjain apa ya? Atau akan disuruh makan apa ya? Mudah-mudahan jangan disuruh makan kecoak! Itu serangga yang paling menjijikkan dalam hidup saya! Bagaimana rasanya ketika anda ditunjuk menjadi pembicara dalam suatu acara penting, dimana anda baru pertama kalinya menjadi pembicara dalam forum seperti itu? Tentu ada rasa was-was yang mengkungkung diri anda mulai ketika anda meng-iakan hingga anda sudah tuntas dalam menjalankan tugas tersebut. Ketika anda akan menjalani ujian wawancara untuk suatu kesempatan pekerjaan dimana anda sangat berharap mendapatkan pekerjaan itu sebagai sumber penghasilan keluarga anda. Tentu anda akan merasakan adanya rasa was-was ketika menunggu giliran hingga tes wawancara yang anda jalani berakhir. Rasa was-was sebagai peserta Fear factor.. Atau rasa was-was ketika mau jadi pembicara dalam forum resmi dan penting atau juga rasa was-was ketika menunggu giliran untuk ujian wawancara dimana kita sangat berharap dapat diterima adalah rasa was-was normal. Rasa was-was ini sering pula disebut cemas. Jadi cemas yang dialami dalam contoh peristiwa di atas adalah cemas normal. Perasaan cemas atau sedih yang berlangsung sesaat adalah normal dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Cemas pada umumnya terjadi sebagai reaksi sementara terhadap stress kehidupan sehari hari. Bila cemas menjadi begitu besar atau sering seperti yang disebabkan oleh tekanan ekonomi yang berkepanjangan, penyakit kronik dan serius atau permasalahan keluarga maka kecemasan akan berlangsung lama. Kecemasan yang berkepanjangan sering menjadi penyakit. Menghasilkan sÊgêrombolan gejala-gejala yang mengaktifkan saraf otonom [sistem saraf yang berdiri sendiri dan tidak bisa kita kendalikan secara sadar]. Sistem saraf otonom yang diaktifkan [hiperaktif] meliputi otot rangka, jantung dan pembuluh darah, lambung dan pencernaan dan kelamin dan sistem perkemihan.
NGAPAIN HARUS MIKIRIN GANGGUAN CEMAS SEGALA?
Di Amerika dilaporkan 15 – 33 % pasien yang datang berobat ke dokter bukan psikiater adalah gangguan mental, sepertiganya adalah gangguan. Di Indonesia survei yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Tambora Jakarta Barat menunjukkan ternyata dari yang berobat di Puskesmas, jumlah gangguan jiwa yang sering muncul sebagai gangguan fisik adalah 28,73 % untuk dewasa dan 34,39 % untuk anak-anak. Kesimpulannya adalah berarti banyak orang “stress” termasuk gangguan cemas, yang keluhannya sakit fisik dan berobat ke fasilitas kesehatan karena keluhan fisik tersebut. Ternyata yang menderita gangguan jiwa jumlahnya hampir sepertiga dari total pasien yang berobat ke fasilitas kesehatan.
Gejalanya kalo cêmas sudah jadi penyakit [tidak semuanya harus muncul]
Keluhan Kognitif dan Psikologis
1. Perasaan cemas, khawatir, was-was. Kalo berkunjung ke tempat praktek biasanya ndak sabar nunggu antrean, langsung segera ingin ketemu dokternya bahkan sering memotong antrean, bukan karena sakit yang berat tetapi kecemasannya aja yang demikian besar! 2. Ragu-ragu untuk bertindak atau memutuskan sesuatu, takut salah 3. Perasaan takut dalam situasi, obyek atau keadaan tertentu (bila sendirian, dalam gelap, di kamar tertutup, berada di ketinggian dsb) 4. Takut mati, takut menjadi gila atau pikiran-pikiran yang cenderung negatif baik terhadap diri sendiri ataupun lingkungan. Jangan-jangan saya …, jangan-jangan saya mau kayak si itu, jangan-jangan saya bisa begini kayak tetangga yang barusan meninggal… pikiran-pikiran ini demikian derasnya muncul hingga ndak bisa tidur semalaman. 5. Merasa tegang. Sehingga tidak bisa santai. Selalu berpikir yang bukan-bukan. Insomnia, sulit untuk mulai (jatuh) tidur/ early insomnia 6. Mudah terkejut, terlalu waspada 7. Mudah marah (irritable) 8. Perasaan cemas tersebut mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan penderita sehingga fungsi pertimbangan akal sehat, perasaan dan perilakunya terpengaruhi. Di kantor tidak bisa tenang, di rumah apalagi bahkan sampai tidurnya-pun mimpi yang nggak-enggak. 9. Mimpi-nya berjudul “aku di kejar-kejar” oleh siapa yaa… yaa ular, yaa penjahat kayak detektif, yaa orang... sampe semalam terbangun berkali-kali
Keluhan fisik
Persarafan dan pembuluh darah 1. Sakit kepala, pusing, kepala terasa énténg 2. Nggliyêr [dizziness], seperti mau pingsan, bahkan sering pingsan. [biasanya pingsannya masih bisa memilih tempat stratêgis untuk jatuh] 3. Vertigo [pusing berputar]. Dirinya merasa berputar-putar sendiri atau kamar/sekelilingnya yang terasa berputar-putar mengitari dirinya 4. Tangan gêmêtaran. Ini bukan buyutên [bahasa jawa] dari hak prérogatif orang tua [maksudnya parkinson] tetapi kalo kecemasan ini milik semua usia. 5. Pandangan kabur 6. Kesemutan. Maksudnya bukan tangan atau kaki banyak semutnya, tetapi maksudnya gringgingên [bahasa jawa]
Jantung dan Pêmbuluh darah 1. Palpitasi [berdêbar-dêbar/bahasa jawanya dêg-dêgan]. Tidak ada yang memicu berdebar-debarnya, tau2´ muncul sendiri. 2. Nyeri dada, dada terasa panas
Pernafasan 1. Nafas pendek. Seperti tersengal-sengal kayak habis lari cepat. 2. Dispnoe [sesak nafas]. Kalo mau merasakan yang ini cobalah marah yang hebat! Pasti terasa nafas itu sesaak sekali. Masih ndak percaya? Coba aja! Berarti om dokter pernah ngalamin kayak gitu? ?!? dulu…… 3. Hiperventilasi (frekuensi nafas sering). Kadang-kadang penderita sering banget nafas puaanjaang sekali.
Pencernaan 1. Mulut kering. Dikasih lip balm-pun têtêp ndak ngéfék. Karena kering bibir dan mulut sebabnya bersumber dari dalam. Bukan panas dalam lho! 2. Tenggorokan seperti tercekik. 3. Perasaan tidak enak di lambung, perut di ulu hati terasa penuh, bahkan produktif dalam hal kêntut. Seringkali mengkonsumsi obat maag, seperti Promaag, Waisan, Mylanta dsb. 4. Sering mual dan muntah 5. Diare. Kalo kayak gini yang senang pasti perusahaan obat diare nih! Oo. Jelank dos! Eh Jelas donk.
per-kelaminan dan perkemihan 1. Sering berkemih. Sebentar-sebentar ke belakang…mau buang air kecil! 2. Nyeri saat berkemih. 3. Ejakulasi prematur. Ini dikeluhkan oleh bapak-bapak…merasa tak sehebat dulu. Seringkali penderita mengkonsumsi obat-obat perangsang. Ooo makanya obat begitu-an laku keras! Biasanya bapak-bapak yang kayak begini minimal setengah tahun terakhir menjabat jabatan baru yang lebih besar di kantor. Disamping tantangan besar, gaji OK tetapi pekerjaannya jadi lebih stressfull. Sehingga badai cemas menghempas berkali-kali dan dalam waktu yang lama. Gejala yang bikin heboh kaum adam yaa inii nih! Status kejantanannya sedang diuji! 4.Impotensia. Waah yang ini jauh lebih gaawaat! Status harga diri dan kejantanannya sedang DIABAIKAN!
Sistem otot rangka 1. Nyeri otot kepala terutama leher. Bahasa jawanya cêngêng atau téngéng. Tetapi cêngêng disini terasa terus menerus, bukan untuk menengok ke kanan atau ke kiri aja timbul nyeri, kalo demikian biasanya karena salah posisi tidur atau leher terlalu lama dipertahankan dalam posisi tertentu, misalnya kelamaan di depan komputer. 2. Sakit dan nyeri otot. Saking sakitnya hingga rasanya seperti dipukuli orang sekampung. Eh ndak begitu dink! Pokoknya mudah pêgêl-pêgêl atau capék-capék seluruh badan. Kulit 1. Keringat berlebihan. Kayak habis olah raga abis-abisan keringatnya… 2. Telapak tangan dan kaki sering basah dan terasa dingin. Seringkali orang beranggapan kalo telapak tangan dan kaki basah karena lemah jantung. Ini pendapat yang keliru. Orang dewasa apalagi remaja atau pemuda dan pemudi mengeluh kayak gini biasanya menderita gangguan kecemasan.
Khusus BAGIAN Kerjaannya Dokter : Tanda obyektif [yang bisa dilihat saat meriksa orang sakit gangguan cemas di tempat praktek] 1. Penderita tampak gugup, gelisah, tidak dapat duduk santai 2. Suara bergetar, gagap 3. Palpitasi [berdebar-debarnya didêngêrin pake stetoskop] 4. Hiperventilasi [nafas sering atau terlihat nafas panjang dan sering diantara beberapa kali ngobrol-ngobrol sama dokternya] 5. Berkeringat banyak atau telapak tangan dan kaki lembab dan basah
Apa yang harus dihindari saat ngalami gangguan cemas 1. Membuat keputusan yang sangat penting. Karena itu penderita gangguan kecemasan dilarang keras menjadi anggota dewan perwakilan rakyat. Untuk mengurus diri sedang mengalami masalah apalagi ngurusin banyak orang. 2. Menyendiri atau menarik diri dari pergaulan dengan masyarakat. Kalo penderita gangguan kecemasan sering menyendiri maka ia akan mudah berlarut-larut dengan pikiran-pikiran kecemasannya. Akhirnya segala sesuatunya jadi terhambat dan berantakan! 3. Tidak segera konsultasi ke dokter terutama psikiater atau psikolog. Semakin dini didiagnosis dan diterapi kemungkinan sembuh jauh lebih besar! 4. Jangan coba-coba merokok atau ngê-drug. Ini adalah saat yang paling tepat untuk mempercepat proses jadi seorang pecandu rokok berat, pecandu obat-obatan terlarang dan sebangsanya seperti putaw [putih lah yaw] bila lagi kecanduan dan ndak ada obat yang datang maka akan mengalami sakit hebat atau sakaw [sakit lah yaw]. 5. Tidak punya temen curhat yang dapat diandalkan. Dengan anda curhat apalagi têmên curhat anda adalah pendengar yang baik, maka ini akan meringankan beban dalam hati anda. Dikenal dengan istilah VÉNTILASI.
Yang harus dilakukan bila ngalami gangguan cemas 1. Segera mencari bantuan ke dokter terutama psikiater dan psikolog. Kalo dokter atau psikiater adalah yang ahli ngobatin dan nentuin kapan mulai dilakukan psikoterapi. Sedangkan psikolog terutama psikolog klinis adalah yang memilih dan melakukan jenis psikoterapi mana yang cocok! Akhirnya dokter atau psikiater ngebantuin pake obat diminum sedangkan psikolog mbantu mbenahin pikiran penderita. 2. Pilih têmên curhat yang “baik-baik”. Artinya bisa menjadi pendengar yang baik atau pilih bu atau pak guru di sekolah yang lebih matang emosi, lebih bisa berempati dan pemahaman agamanya sehingga dapat menjadi pendengar yang baik. Tapi umumnya kalo dengan pak atau bu guru biasanya mereka untuk ukuran anak jamrud [jaman rudal atau modern] mereka dipersepsi terlalu jadul [jaman dulu alias kurang gaul] maaf yaa pak dan bu guru. Yang penting jangan pilih asal-asalan, dan jangan asal pilih têmên dêkatmöē. Pilihan temen dekat adalah pilihan gaya hidup kita! Waah jadi seriues nih! Iya donk! 3. Lakukan latihan relaksasi. Jalan-jalan pagi terutama dideket sawah yang luas atau deket dengan pegunungan disamping udara sejuk, cocok sekali untuk mengendurkan ketegangan-ketegangan yang ada di dalam pikiran dan emosi-emosi liar yang tidak terkendali. Menurut Daniel Goleman penulis Emotional Intelegence latihan relaksasi memang butuh waktu yang lama tetapi efeknya lebih bersifat pêrmanén. Karena ia “mengaktifkan” “daerah pemacu relaks” di otak dan “menonaktifkan” “daerah pemicu kecemasan”. 4. Bagi yang beragama Islam karena tuntutan akidah maka latihan relaksasi harus sesuai dengan akidah. [untuk ini mohon untuk menanyakan ke MUI senam-senam pernafasan apa yang tidak boleh diikuti] Sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk rajin melakukan sholat malam dengan menghayati dan khusyuk melafadzkan bacaan-bacaan dalam sholat malam tersebut. Diteruskan dzikir ma’tsurat ini sangat membantu relaksasi dan menanamkan kepasrahan yang tinggi pada Allah SWT. 5. Memperbaiki sikap terutama sikap mental terhadap masalah-masalah hidup yang dihadapi. Yang penting bukan masalah-masalah hidupnya, tetapi sikap kita terhadap masalah-masalah hidup itu sendiri. [kata filsuf Cina I-tching] Karena itu dituntut untuk berfikir jangka panjang. Apakah dampak sikap dan tingkah laku di masa datang membuat masalah yang berat. Stephen R. Cove mengatakan ada ruang berpikir antara peristiwa yang kita hadapi dengan respons kita terhadap peristiwa itu. Kalo dalam hadits nabi menyebut Al-Kayyis “cerdas spiritual” artinya menyediakan ruang berfikir untuk memperhitungkan dampaknya tidak saja di dunia tetapi di akhirat kelak.
Masalah penggunaan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter atau psikiater.
1. Obat sangat diperlukan terutama bila gangguan cemas sudah mengganggu atau ditujukan untuk mempercepat proses penyembuhan. 2. Penyembuhan dengan obat membuat penderita sudah dapat merasa “normal” dalam waktu seminggu sampai dua minggu. Kemudian dipertahankan hingga tiga sampai enam bulan. Baru dikurangi pelan-pelan sampai penderita tidak minum obat lagi. 3. Psikoterapi mulai dilaksanakan pada minggu kedua di saat pasien sudah merasa “normal”. Keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh kerja sama yang bagus antara dokter dan pasien. Pasien diharapkan mematuhi petunjuk cara minum obat. Juga disiplin dan telaten melakukan relaksasi atau petunjuk dari psikolognya. 4. Dokter atau psikiater harus tanggap kapan pasien mulai dilakukan psikoterapi dan kapan sudah layak dilakukan pengurangan dosis hingga berhenti minum obat.
Wallahua’lam Konsep hidup itu : yang seimbang, komprehensif dan moderat
 Comment deleted at the request of the author.
 | bisa dikirim lewat e-mail saya yusuf_pluss@yahoo.com |
 | saya mengalami gejala2 kecemsan tsb, saya sering berdebar2 dan nadi saya antara 90 an, padahal dalam keadaan istirahat. yang jedi masalah adalah saya sudah mendatangi banyak dokter spesialis jantung dan melakukan rekam jantung sampai echo, dan dinyatakan normal, kecuali takikardi. saya sangat stress. karena saya tidak percaya bahwa saya benar2 normal sementara saya sangat takut inum obt. saya belu konsul dengan psi. |
 | aslm. saya punya adik yang mana ganguan kecemasan yang terjadi hampir semuanya mencakup dalam kategori seperti yang tertera di atas... yang jadi masalah pada kejadian ini terjadi setelah maaf ngomong ada faktor nonmedis(makhluk halus) yang pernah mengusiknya... dan trouma depresinya yang hingga saat ini masih ada... dan dia masih beranggapan bahwa masih adanya gangguan tersebut.... mohon infopenyembuhannya |
Comment deleted at the request of the author.
| |