yusuf alam's health edutaintment

Blog Entrygaya funky gaya bebasJun 23, '08 1:17 AM
for everyone

 gaya hidup bebas bukan gayA funky!

 

 

Funky memang punya banyak definisi maupun macamnya. Ada Fun-des [funky dhésó], ada fun-kot [funky kota], ada so-Fun [sok funky], ada du-Fun [dunia Funky] ada fun-baik [funky baik] dan ada pula kam-funk [kampung funky] tetapi semua ada kesamaannya yaitu berusaha untuk ekspresip [jangan pake “pe” tapi pake “ep”] dan mengagungkan kebebasan. Ekspresif maksudnya ingin semua orang tahu siapa dirinya, apa keinginannya dan yang lebih penting ia ingin dihargai bahkan ingin menjadi pujaan. (aturan pertama funky; lebih baik GR dari pada minder). Mengagungkan kebebasan

Selanjutnya yang sering dikaitkan dengan kebebasan berekspresi adalah era gaul gitchu lhooh. Gaul itu katanya adalah kebebasan ekspresi yang menjadi arus utama orang-orang muda terkini. Prinsipnya dikatakan gaul apabila sangat berbeda dengan orang-orang jadul

Permasalahannya tidak semua yang ekspresif dan keagungan kebebasan dapat diterapkan seluas-luasnya, karena beberapa alasan. Pertama, karena ada manusia lain yang juga kebetulan hidup bersama dengan kita. Mereka punya privasi, mereka punya keinginan, mereka punya cemburu, mereka punya rasa cinta, punya rasa memiliki dan mereka juga punya harga diri. Kan… funk-er jugaaa…manusia!

Kedua, dalam dunia manusia setiap pilihan ada resiko dan konsekuensinya. Contoh ketika memutuskan belajar jadi dokter maka konsekuensinya ia akan kehilangan banyak waktu untuk belajar menjadi tukang insinyur teknik sipil. Atau ketika seseorang memutuskan melakukan investasi sejumlah uang miliaran rupiah akan menghadapi resiko kehilangan seluruh uang yang telah ia investasikan disamping potensi keuntungan besar yang akan ia peroleh.

kesimpulan

Gaya funky = kebebasan berekspresi dengan pengelolaan resiko yang sangat matang, sehingga bisa tampil spontan dan kelihatan tidak dibuat-buat dan memang tidak dibuat-buat.

Free sex ¹ asal beda dengan orjadul [orang jaman dulu]

Free sex ¹ prinsip-prinsip ke-funky-an = resikonya sangat besar = lihat dan telusuri huruf-huruf dalam halaman selanjutnya……must be patient alias sabar … ya…!

Gaya Hidup Bebas tak sebebas akibatnya

 
Menjelang pernikahan kami, suami saya (maksudnya suami dr Yuni ya dr Yusuf, statusnya masih calon, waktu itu) mengurus SIM (Surat Ijin Menikah) ke rumah JogoBoyo (KaUr KesRa). Karena terdesak “deadline” sedangkan Pak JogoBoyo tidak ada di rumah, waktu itu sedang “ngerjain” sawahnya, hari itu juga harus ketemu langsung. Berhubung sawahnya jauh terletak di tetangga desa serta tidak ada jalan lain kecuali harus melewati “tepi kawasan persawahan dan sedikit melanggar daerah lokalisasi”. Mau tidak mau harus têlatén menyusuri  “galêngan” (jalan setapak, Jawa) yang berbatasan dengan jalan kampung yang ramai sekali dengan tetumbuhan merambat. Ketika berjalan di galêngan itulah suami terkejut karena tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu sebesar “terong” dan terasa kenyal. Walopun masih tengah hari dan sang surya berada di puncak hegemoninya sebagai penguasa tunggal, akan tetapi rasa penasaran juga sedikit rasa takut karena di sawah sering ada ular (karena hewan ini walopun kata pembawa acara “wild animal” lucu dan cantik, tapi kan menakutkan bagi para pemirsa terutama suami saya) sehingga pandangan dan konsentrasi tak kuasa lagi diarahkan untuk memeperjelas apakah gerangan benda yang sempat terinjak tadi. Dilakukanlah ”cropping” serta “zoom” disêtél dalam ukuran 500%. Setelah diamati benar dan sedikit ditekan dan diputar-putar dengan kaki, hasil pengamatan menunjukkan: sêpintas lalu memang bentuk lonjong, konsistensi gêndhuk-gêndhuk (kenyal) warna kehijauan tapi warna hitam putih ato abu-abunya cêngéngésan untuk menonjolkan diri dan agak mengkilat. Dan sungguh mengejutkan ternyataaa… dalam bulatan abu-abu kehijauan dan agak mengkilat tadi, di dalamnya ada cairan yang menyelimuti bayangan bentuk kepala, badan, tungkai-kaki dan lengan-tangan dalam posisi kepala-punggung membungkuk tungkai kaki “menekuk”, fleksi istilah medisnya serta lengan dan tangan juga posisi yang sama seperti mummi-nya suku asmat. Hasil pengamatan berkesimpulan pada satu kata “janin, saudara2! ” Yah …janin yang masih berumur kira-kira 3 bulan dalam kandungan, sudah tak bernyawa, dan sedang diproses untuk membusuk oleh alam, seperti memang sengaja dibuang karena didekat sawah tersebut berdiri lokalisasi. Begitu tega ya ibunyaaa!!

Di tempat praktek dokter kulit dan kelamin, datanglah sepasang suami-istri yang baru saja dikaruniai anak. Sang istri mengeluh keputihan yang dideritanya walau masa nifas telah berakhir 3 bulan yang lalu. Sesuai prosedur medis, cairan vagina istri diperiksa di laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti keluhan tersebut. Hasil laboratorium telah jadi dan hasilnyaaaa: GO+!! [baca “Gé”-“O” positif asli] Alias Gonorrhoe Alias Penyakit Raja Singa yang hanya bisa ditularkan lewat hubungan sexual. Diujung cerita suaminya mengaku ketika istrinya nifas, dia berhubungan dengan mantan pacarnya, sudah gitu dalam pengakuannya dia bilang kalau pacarnya “bersih” kok, mahasiswi lagi, ihhh sudah ketahuan pake ngeles lagi!! gak tau maluuu ya!

Gak jauh-jauh, ditempat praktek dokter dekat kampus favorit yang mestinya menjadi panutan masyarakat, harapan bangsa (katanyaa), selama kurun waktu tertentu dalam perjalanan karier praktek sudah ada 3 orang pasien yang terdiagnosa sama: GO!! Dan ketiga-tiganya berstatus elit: Mahasiswa!!!

3 Cerita diatas asli lho! Bukan rekayasa pikiran atau fiksi. Peristiwa asli ini hanyalah semacam fenomena puncak gunung es yang tampak dipermukaan tapi sebenarnya badan dan kaki gunung yang terendam di bawahnya yang tidak terlihat tersusun oleh bagitu banyak persoalan yang berkaitan dengan gaya hidup bebas, tentunya dilihat dari kacamata medis [karena yang bicara dokter].

Masalah lain yang sering muncul dipermukaan yang dikenali dokter adalah akibat terlalu dini berhubungan seks terutama dengan pekerja seks komersial adalah IMPOTENSIA. Kalo dilacak asal-usulnya kira-kira sebagai berikut : 80 – 90 % lelaki normal yang belum pernah berhubungan seks pasti mengalami ejakulasi prematur di saat hubungan seks pertamanya. Tetapi kalo partner hubungan seks “menit perdana” si-laki-laki adalah pekerja seks komersial yang sudah mengantongi “jam terbang” yang tinggi, ditambah tidak ada tambahan kursus bagaimana melayani laki-laki culun yang benar secara psikologis, tentu saja akan menggunjing si-laki-laki culun dengan kata-kata atau sikap atau bahasa tubuh tertentu yang pasti sangat menyudutkan dan sangat menusuk. Pengalaman yang tidak menyenangkan ini berakibat trauma psikologis dan berakibat fatal yaitu ketika harus berhubungan seks yang betul dengan istrinya yang sah trauma itu berakibat alat kelaminnya tidak berfungsi saat dibutuhkan alias IMPOTEN!

Masalah yang cukup membuat pusing yang bila ditelusuri “masih berbau” pergaulan bebas adalah kesulitan untuk memiliki anak karena infeksi rahim. Penyakit ini diderita akibat, baik laki-laki ato perempuan berhubungan seks dengan banyak pasangan. Jadi seperti komputer yang “direntalkan” akibat banyak disket yang keluar masuk, akhirnya banyak virus-virus yang dikandung. Ternyata ini juga sama dengan manusia, kalo pergaulan bebas dilaku-in maka kasusnya sama dengan komputer yang “direntalkan”. Hanya saja dalam organ kelamin dan reproduksinya  berkembang seperti “kebun binatang” yang ramai penghuninya. “Binatang-binatang penghuni” ini meliputi herpes simplex tipe 1 dan 2, trichomonas, rubella, neisseria gonorhoe, treponema palidum [sipilis] semuanya amat tidak ramah dengan kenormalan fungsi organ reproduksi terutama untuk “memproduksi” anak normal. Belum lagi kasus AIDS/HIV yang pernah populer, telah menewaskan banyak korban. Lengkap sudah dampak dari gaya hidup bebas mulai dari mereka yang masih muda,seperti kasus ketiga, hubungan suami-istri pada kasus kedua, sampai hilangnya rasa kemanusiaan dan kasih sayang orangtua terhadap anaknya pada kasus yang pertama. Lalu bagaimanakah sikap kita setelah mengetahui akibat medis dari gaya hidup bebas?

Sebenarnya dalam Alquran sendiri sudah jelas tertera usaha preventif untuk tidak terkena segala  macam persoalan diatas, yang mana diakui juga dalam dunia medis. Usaha yang diprioritaskan adalah: Hindari berhubungan sexual Pra-Nikah!! Termasuk didalamnya adalah mengeliminasi stimulasi / rangsangan menuju kesana! Dianjurkannya untuk menikah ketika sudah mampu, puasa kalau belum mampu, akan lebih baik bila tak berduaan dengan yang bukan mahromnya (walau dengan alasan rapat kek, atopun takut tokek kek… he he he), menundukkan pandangan dalam artian ketika ada “letupan-letupan api” yang bergolak maka segeralah mencari air yang mendinginkannya (bukan malah “api” yang semakin membakar ya!), Usaha yang kedua adalah: Hindari berhubungan dengan yang bukan pasangan sahnya!! Manusia telah diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya, maka ketika dia sekedar memenuhi “trend” lalu berhobi koleksi “nama”, berlomba menjadi “pemegang Piala” terbanyak, maka seperti dalam kisah Watti-nya novel Supernova edisi Petir, dia seperti berjalan telanjang selamanya.Biarpun memakai baju, saking banyaknya orang yang pernah melihat tubuhnya. Naudzubillah……! Usaha yang ketiga, dan terpenting saya kira adalah: Memperbaiki konsep diri kita. Termasuk didalamnya mengetahui buat apa sih kita hidup? Apa sekedar mengejar kesenangan jangka pendek, punya uang banyak dengan “mengobral” kehormatan diri (atau justru ngobral uang agar dihormati), atau merasa puas ketika banyak orang menikmati (dan kepengen dinikmati)?.

 

 

 

 

 

 




Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.